Shalat dan Manfaatnya Secara Psikis

Secara bahasa salat berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti, doa. Sedangkan, menurut istilah, salat artinya kegiatan ibadah khusus atau tertentu yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.

Hukum Salat

Dalam banyak hadis, Nabi Muhammad SAW telah memberikan peringatan keras kepada orang yang suka meninggalkan salat, diantaranya ia bersabda: “Perjanjian yang memisahkan kita dengan mereka adalah salat. Barangsiapa yang meninggalkan salat, maka berarti dia telah kafir.”

Orang yang meninggalkan salat maka pada hari kiamat akan disandingkan bersama dengan orang-orang laknat, berdasarkan hadis berikut ini: “Barangsiapa yang menjaga salat maka ia menjadi cahaya, bukti dan keselamatan baginya pada hari kiamat dan barangsiapa yang tidak menjaganya maka ia tidak mendapatkan cahaya, bukti dan keselamatan dan pada hari kiamat ia akan bersama Qarun, Fir’aun, Haman dan Ubay bin Khalaf.”

Hukum salat dapat dikategorisasikan sebagai berikut :

Fardu, Salat fardhu adalah salat yang wajib untuk dikerjakan. Salat Fardhu terbagi menjadi dua, yaitu :

  1. Fardu ‘Ain : Kewajiban yang diwajibkan kepada mukallaf langsung berkaitan dengan dirinya dan tidak boleh ditinggalkan ataupun dilaksanakan oleh orang lain. Seperti salat 5 waktu
  2. Fardu Kifayah : Kewajiban yang diwajibkan kepada mukallaf tidak langsung berkaitan dengan dirinya. Kewajiban itu menjadi sunnah setelah ada sebagian orang yang mengerjakannya. Akan tetapi bila tidak ada orang yang mengerjakannya maka kita wajib mengerjakannya dan menjadi berdosa bila tidak dikerjakan. Seperti salat jenazah.

Nafilah (salat sunah), Salat Nafilah adalah salat-salat yang dianjurkan atau disunnahkan akan tetapi tidak diwajibkan. Salat nafilah terbagi lagi menjadi dua, yaitu

  1. Nafil Muakkad adalah salat sunah yang dianjurkan dengan penekanan yang kuat (hampir mendekati wajib), seperti salat dua hari raya, salat sunah witir dan salat sunah thawaf.
  2. Nafil Ghairu Muakkad adalah salat sunah yang dianjurkan tanpa penekanan yang kuat, seperti salat sunah Rawatib.

Selain itu, salat juga memiliki rukun-rukun yang harus ada atau yang harus dilaksanakan agar salat itu sah. Rukun Salat ada 13, antara lain :

  1. Niat
  2. Berdiri (bagi yang mampu)
  3. Takbiratul ihram
  4. Membaca surat Al Fatihah pada tiap rakaat
  5. Rukuk dengan tuma’ninah
  6. Iktidal dengan tuma’ninah
  7. Sujud dua kali dengan tuma’ninah
  8. Duduk antara dua sujud dengan tuma’ninah
  9. Duduk tasyahud akhir
  10. Membaca tasyahud akhir
  11. Membaca salawat nabi pada tasyahud akhir
  12. Membaca salam yang pertama
  13. Tertib (melakukan rukun secara berurutan)

Salat dalam Al-Qur’an

Berikut ini adalah ayat-ayat yang membahas tentang salat di dalam Al-Qur’an…

  • Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: Hendaklah mereka mendirikan salat, menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan (QS.Ibrahim :31)
  • Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji (zinah) dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat lain) Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan (al-‘Ankabut : 45)
  • Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan (Maryam: 59)
  • Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh-kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya (al-Ma’arij : 19-23)

Manfaat Salat Ditinjau dari Aspek Kejiwaan

Allah berfirman,

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yailg khusyu’ dalam shalatnya.” (al­-Mu’minuun: 1-2)

Dalam salat, seseorang mengingat pasti Tuhan. Se­sungguhnya manusia dalam dunia ini hanya milik Allah semata. Jika ada orang zalim yang menganiayanya, maka hendaknya ia serahkan masalahnya kepada-Nya. Jika dunia ini serasa sempit baginya, maka hendaknya ia lekas berlindung kepada-Nya terhadap segala sesuatu yang ada. Perasaan psikis semacam ini dapat menarik seseorang menjadi tenang dan tenteram jiwanya, yang pada nantinya dapat menolong manusia untuk melangkah terus dalam kehidupannya secara sehat jasmani maupun sehat rohani.

Seperti halnya curhat merupakan salah satu bentuk media pengobatan yang kini mulai diberlakukan di setiap rumah sakit kejiwaan maupun syaraf. Tidak semua orang selalu dapat dijadikan tempat untuk curhat, tetapi orang yang dijadikan tempat curhat itu juga tidak harus seorang dokter atau salah seorang tokoh agama. Yang penting adalah merasa bahwa orang ini akan selalu mendengarkan, merasakan, dan membantu. Asal tahu saja, Allah lah tempat terbaik untuk curhat karena Allah lah Yang maha pengasih dan maha mendengar doa.

Kolheim, seorang kebangsaan Inggris yang masuk Islam dan meng­ganti namanya dengan Abdullah, ia mengatakan bahwa ketika ia sedang bepergian denagn sebuah kapal laut menuju Tango, tiba-tiba datang badai sehingga kapalnya hampir saja tenggelam. Para penumpang menyelamatkan barang bawaan mereka dan berlari-larian. Mereka panik dan tak tahu harus berbuat apa. Lalu tiba-tiba ia menyaksikan sekelompok kaum muslimin sedang membentuk satu barisan sambil bertakbir, bertahlil, dan bertasbih dia bertanya kepada salah seorang dari mereka, “Apa yang sedang kalian lakukan?” orang itu menjawab, “Kami sedang salat” Maka ia bertanya kembali, “Tidakkah kalian bergegas untuk mengendalikan kapal agar tidak tenggelam?” orang itu menjawab, “Tidak… Sesungguhnya kami salat kepada Allah, hanya di tangan-Nyalah semua urusan berada. Jika Dia menghendaki, maka Dia pasti menghidupkan (kami); dan jika Dia berkehendak pula, maka Dia mematikan (kami).” Peristiwa inilah yang menyebabkan ia ingin mempelajari agama Islam sekaligus sebagai hidayah baginya untuk masuk ke dalam Islam. Bahkan, ia akhirnya menjadi salah seorang dai besar di Inggris, dan telah banyak orang yang masuk Islam karenanya. Subhanallah…

Suatu ketika Alkount Henry de’ Castre keluar menuju gurun pasir untuk senang-senang dengan berkendaraan kuda bersama 30 orang Arab kampung yang juga menunggang kuda-kuda mereka. Setelah beberapa saat berjalan, mereka berhenti ditengah perjalanan, mengingat telah masuk waktu salat. Maka, turunlah mereka dari kuda dan membentuk satu barisan. Dengan kopiah-kopiah putih, mereka merunduk­ dan sujud dengan gerakan-gerakan secara teratur, serta mengagungkan Allah (bertakbir). Seketika Henry diselimuti perasaan tak menentu yang tidak bisa diungkapkan, antara malu dan marah. Orang-orang Arab ini dengan sangat yakin menganggap diri mereka lebih mulia dariku dan lebih agung cita-citanya. Betapa indahnya pemandangan mereka, sedangkan kuda-­kuda mereka tampak berdiri khusu di dekat mereka. Kuda-kuda itu terlihat tenang, seolah dikendalikan oleh hawa khusu yang terpancar dari ibadah salat serta rasa takut kepada Allah itu.

Jelaslah sudah bahwa semangat Islam untuk melakukan salat berjamaah mendorong terealisasinya tujuan kejiwaan. Yaitu, mempererat hubungan mahabbah/kecintaan di antara orang-orang yang melakukan salat dan semakin menguatkan rasa kasih sayang di antara mereka. Kumpulan yang bersemangat ini meskipun berbeda pakaiannya, asal-usulnya, dan usianya bersama-sama berdiri membentuk satu barisan, yang dipimpin oleh pemimpin (imam) melaksanakan ibadah salat, yang kadang sang imam justru yang paling miskin di antara mereka.

Sudah betapa banyak gambaran shalat berjamaah ini memiliki pengaruh yang sangat besar bagi siapa saja yang sedang melihatnya dari kalangan orang-orang non-muslim. Seorang juru tulis Inggris Herros Liev berkata, “Sungguh sesuatu di dunia ini yang paling memuaskanku adalah bila setiap agama yang ada itu selalu menyeru kepada persamaan di antara semua orang tanpa pandang bulu. Aku telah mengunjungi banyak sekali gereja maupun tempat-tempat peribadahan lain. Aku lihat dalam tempat-tempat peribadahan tersebut terjadi pemisahan antara lapisan (kedudukan seseorang) sama persis dengan keadaan yang terjadi di luarnya. Aku sangat yakin pasti di dalam masjid-masjid juga demikian halnya. Akan tetapi, betapa kagetnya diriku ketika menyaksikan perasaan sederajat yang sungguh sangat luar biasa di antara kalangan umat Islam. Di sana aku menemukan orang-orang yang beraneka ragam jenis dengan kedudukan mereka yang berbeda-beda. Betapa sangat mulia beban di antara mereka semua, tanpa ada satu pun orang yang merasa risih, meskipun cukup tinggi kedudukannya ketika shalat bersebelahan dengan orang yang barangkali lebih rendah pangkatnya.”

Nilai kejiwaan yang ditinggalkan oleh salat lebih agung dari hanya sekadar yang bisa dilihat atau dipikirkan. Hal ini berdasarkan pengakuan para pakar ilmu jiwa asing yang beragama non-muslim.

 

Sumber : http://id.wikipedia.org/,  http://www.akhirzaman.info/islam/shalat/

Published in: on Juni 19, 2012 at 4:30 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://arievaldo.wordpress.com/2012/06/19/shalat-dan-manfaatnya-secara-psikis/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: